hanya sebuah celoteh dari saya

Jumat, 30 Mei 2008

pidato bhsa indonesia by adhika wimbardi

Assalamualaikum warahmatullahhiwabarokaatuh…

Selamat siang

Salam sejahtera bagi kita semua…

Kepada yang terhormat bapak guru bahasa Indonesia

Juga tman2 sekalian yang berbahagia

Pertama-tama kita panjatkan puji syukur kita kepada Tuhan yang telah mempertemukan kita disini dalam keadaan sehat

Terima ksih atas kehadiran bapak dan teman-teman sekalian

Saya disini akan sedikit menjelaskan tentang salah satu perjuangan bangsa kita di daerah Bandung atau lebih dikenal dengan nama Bandung Lautan Api atau disingkat BLA…

Suatu hari di Bulan Maret 1946, dalam waktu tujuh jam, sekitar 200.000 penduduk mengukir sejarah dengan membakar rumah dan harta benda mereka, meninggalkan kota menuju pegunungan di selatan. Pada saat di ultimatum agar Tentara Republik Indonesia (TRI) meninggalkan kota dan rakyat, rakyat tidak rela Kota Bandung diman¬faatkan oleh musuh, maka lahirlah politik “bumi hangus” Keputusan untuk membumi¬hanguskan Bandung diambil melalui musyawarah Majelis Persatuan Perjuangan Priangan (MP3) di hadapan semua kekuatan perjuangan, pada tanggal 24 Maret 1946 Kolonel Abdul Haris Nasution selaku Komandan Divisi III, mengumumkan hasil musyawarah tersebut dan memerintahkan untuk meninggalkan Kota Bandung. Hari itu juga, rombongan besar penduduk Bandung mengalir panjang meninggalkan kota. Malam itu pembakaran kota berlangsung besar-besaran. Api menyala dari masing-masing rumah penduduk yang membakar tempat tinggal dan harta bendanya, kemudian makin lama menjadi gelombang api yang besar. Setelah tengah malam kota telah kosong dan hanya meninggalkan puing-puing rumah yang masih menyala.

Beberapa tahun ke¬mudian, lagu "Halo Halo Bandung" ditulis untuk melambangkan emosi mereka, seiring janji akan kembali ke kota tercinta, yang sekarang telah menjadi lautan api.

Itu lah hebatnya orang Bandung dari pada di jajah mending di bakar,,, toh akhirnya ga jadi tu Bandung di duduki orang asing.

Seperti sajaknya W. S. Rendra yang berbunyi:

Bagaimana mungkin kita bernegara
Bila tidak mampu mempertahankan wilayahnya
Bagaimana mungkin kita berbangsa
Bila tidak mampu mempertahankan kepastian hidup
bersama ?
Itulah sebabnya
Kami tidak ikhlas
menyerahkan Bandung kepada tentara Inggris
dan akhirnya kami bumi hanguskan kota tercinta itu
sehingga menjadi lautan api
Kini batinku kembali mengenang
udara panas yang bergetar dan menggelombang,
bau asap, bau keringat
suara ledakan dipantulkan mega yang jingga, dan kaki
langit berwarna kesumba

Kami berlaga
memperjuangkan kelayakan hidup umat manusia.
Kedaulatan hidup bersama adalah sumber keadilan merata
yang bisa dialami dengan nyata
Mana mungkin itu bisa terjadi
di dalam penindasan dan penjajahan
Manusia mana
Akan membiarkan keturunannya hidup
tanpa jaminan kepastian ?

Hidup yang disyukuri adalah hidup yang diolah
Hidup yang diperkembangkan
dan hidup yang dipertahankan
Itulah sebabnya kami melawan penindasan
Kota Bandung berkobar menyala-nyala tapi kedaulatan
bangsa tetap terjaga

Kini aku sudah tua
Aku terjaga dari tidurku
di tengah malam di pegunungan
Bau apakah yang tercium olehku ?

Apakah ini bau asam medan laga tempo dulu
yang dibawa oleh mimpi kepadaku ?
Ataukah ini bau limbah pencemaran ?

Gemuruh apakah yang aku dengar ini ?
Apakah ini deru perjuangan masa silam
di tanah periangan ?
Ataukah gaduh hidup yang rusuh
karena dikhianati dewa keadilan.
Aku terkesiap. Sukmaku gagap. Apakah aku
dibangunkan oleh mimpi ?
Apakah aku tersentak
Oleh satu isyarat kehidupan ?
Di dalam kesunyian malam
Aku menyeru-nyeru kamu, putera-puteriku !
Apakah yang terjadi ?

Darah teman-temanku
Telah tumpah di Sukakarsa
Di Dayeuh Kolot
Di Kiara Condong
Di setiap jejak medan laga. Kini
Kami tersentak,
Terbangun bersama.
Putera-puteriku, apakah yang terjadi?
Apakah kamu bisa menjawab pertanyaan kami ?

Wahai teman-teman seperjuanganku yang dulu,
Apakah kita masih sama-sama setia
Membela keadilan hidup bersama

Manusia dari setiap angkatan bangsa
Akan mengalami saat tiba-tiba terjaga
Tersentak dalam kesendirian malam yang sunyi
Dan menghadapi pertanyaan jaman :
Apakah yang terjadi ?
Apakah yang telah kamu lakukan ?
Apakah yang sedang kamu lakukan ?
Dan, ya, hidup kita yang fana akan mempunyai makna
Dari jawaban yang kita berikan.

Dengan ini maka sepatutnya kita harus bangga atas apa yang telah mereka perjuagkan dan dengan apa yang telah mereka lakukan dengan membuat sejarah ini dan kita harus menanam rasa nasionalisme kita dari sekarang. Kita hanya bisa berdoa dan berterima kasih atas apa yang mereka perjuangkan dulu dan sekarang kita sudah enak tinggal menikmati keindahan alam kota Bandung ini.

Hadirin yang saya hormati, demikianlah sedikit tentang terjadinya Bandung Lautan Api yang dapat saya sampaikan. Mudah-mudahan kita dapat mengambil hikmahnya dari pidato ini dan kita dapat menambah pengetahuan tentang sejarah bangsa Indonesia dan kita juga bisa menghargai jasa-jasa para pahlawan kita. Mohon maaf bila ada kekurangan serta kata-kata yang kurang berkenan di hati, atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih.

Wassalamualaikum Wr.Wb.

Selamat siang

Salam sejahtera...

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda